Minggu, 14 Februari 2021

Press Release Pembukaan Museum Maritim

 

Bagi anda yang selalu penasan dan ingin tahu lebih tentang perdagangan laut di masa lalu, kini Museum Maritim hadir untuk mengobati rasa penasaran anda. PT Pelabuhan Indonesia II Persero (IPC) membuka Museum Maritim Indonesia di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Melalui Museum ini, IPC bertekad untuk membangun literasi maritim di Indonesia dan menjadikan Museum ini sebagai salah satu pusat edukasi dan informasi tentang sejarah kelautan khususnya perdagangan laut di Indonesia. Dikabarkan melalui press release yang di unggah oleh web EnjoyJakarta, pembukaan Museum ini bersifat soft launching dan grand launching akan segera dibuka dalam waktu dekat.

Museum ini akan buka setiap Selasa - Minggu setiap pukul 09.00 WIB dan informasi mengenai Museum dapat di akses pada sosial media milik Museum Maritim.

Senin, 01 Februari 2021

Take a Look : Museum Gajah

Museum Nasional Indonesia atau kerap disebut sebagai Museum Gajah, merupakan salah satu museum bernuansa Eropa yang ada di Jakarta. Bergaya klasik, museum ini menjadi rumah bagi banyak peninggalan bersejarah dari seluruh Nusantara.

Digadang-gadang sebagai museum terlengkap, Museum Nasional menyimpan 160.000 benda bersejarah, yang terdiri dari tujuh jenis koleksi Prasejarah, Arkeologi masa Klasik atau Hindu – Budha; Numismatik dan Heraldik; Keramik; Etnografi, Geografi dan Sejarah. Koleksi tersebut ada yang didapat dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda, dan juga pembelian.

Salah satu koleksi yang paling menarik di museum ini adalah patung Bhairawa. Patung yang ditemukan di Padang Roco, Sumatera Barat ini merupakan patung tertinggi di Museum Nasional. Diperkirakan berasal dari dari abad ke 13-14, patung ini merupakan perwujudan dari Siwa dan Budha, dan digambarkan sebagai raksasa mengerikan. Dahulu kala, patung ini dijadikan sebagai markah tanah oleh kerajaan Melayu.

Patung Bhairawa hanyalah salah satunya, masih banyak lagi koleksi menarik lainnya di museum gajah. Seperti koleksi tertua di museum ini yaitu Arca Buddha Dipangkara dan masih banyak lagi. Selain berwisata, kita juga jadi bisa belajar dan membayangkan bagaimana kehidupan di masa lalu.


Anies Anggap Wisma Atlet Sebagai Museum Sejarah bagi Penyintas Covid

 Angka persebaran Covid yang kian meninggi membuat pasien di Wisma Atlet membludak. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan katakan Wisma Atlet adalah museum penyintas Covid. Bangunan ini menjadi saksi bisu akan harapan dan doa dari para penyintas, alasannya.  


Siapa yang tidak tahu Wisma Atlet? gedung yang sengaja dibuat sebagai asrama para atlet se-Asia dalam ajang Asian Games pada tahun 2018 kemarin. Setelah ajang pesta olahraga terbesar se-Asia Tenggara itu usai, kini Wisma Atlet kembali di huni. Bukan oleh para atlet, melainkan orang-orang terinfeksi virus Corona. Kompleks gedung bertingkat yang berdiri di atas tanah seluas 10 hektare, dan terdiri dari sepuluh bangunan menara dengan jumlah 7.424 kamar itu kini telah beralih fungsi sebagai rumah sakit darurat pasien terpapar covid.

Gedung itu kini telah menjadi saksi bisu dari para penyintas Covid. seperti dikatakan oleh Anies Baswedan saat launching buku berisi kumpulan foto selama pandemi di Jakarta, dikutip dari merdeka.com "Gedung ini menjadi preform salah satu monumen Covid yang hari ini belum disadari. Nanti, gambar ini akan dikenang lintas zaman karena di sinilah tempat berkumpulnya penyintas Covid paling banyak,"

Mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu juga menganggap bahwa tower ini bukan hanya sekedar saksi bisu namun juga tempat bersejarah, di mana saat Asean Games berlangsung tidak ada yang pernah menyangka bahwa asrama megah ini pada akhirnya akan menjadi rumah sakit darurat dan menampung pasien dengan jumlah terbanyak se-Asia Tenggara dan Asia. Anies juga menganggap bukanlah karena pengalih fungsiannya yang membuat bangunan ini hebat tapi bagaimana tempat ini dapat menampung puluhan ribu penyintas dan menyaksikan setiap cerita di dalamnya. Jadi sudahlah cocok kalau bangunan itu dianggap sebagai tempat bersejarah.

Cara Museum Hadapi Pandemi

Museum menjadi salah satu tempat yang mendapat dampak besar dari kehadiran pandemi. Mereka tida bisa terus tutup, sebab jika begitu, dana operasional museum akan berkurang, sedangkan biaya perawatan museum tidaklah sedikit. Maka dari itu, museum akan tetap buka namun tentunya dengan pengawalan protokol kesehatan yang ketat bagi civitas museum dan pengunjung.


Pandemi Corona yang tengah melanda Indonesia saat ini membuat kita harus berusaha keras untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru. Menjaga jarak, pakai masker, karantina mandiri, cuci tangan sampai bersih, dan usaha lainnya agar kita terhindar dari virus tersebut. Tidak hanya itu, sekolah, kantor, cafe dan tempat-tempat bisnis lainnya juga dipaksa untuk beradaptasi dengan keadaan saat ini. Mereka berlomba-lomba untuk membuat inovasi baru yang dapat diterapkan di era pandemik.

Tak ketinggalan, salah satunya adalah museum. Tempat ini menjadi salah satu tempat yang berusaha mati-matian untuk tetap berdiri di tengah krisis pandemi. Aturan PSBB, penutupan sementara, hingga ancaman tutup permanen akibat masalah keuangan yang tidak mencukupi biaya operasional. Lalu bagaimana mereka menghadapi ini?

Dengan adanya pemberlakuan PSBB, jam operasional museum mulai dikurangi, yang tentu saja berimbas pada jumlah pengunjung. Untuk mengatasi hal ini pihak museum mulai memikirkan solusi lain, dan Virtual Tour via online dinilai dapat menjadi solusi untuk hal ini. Tidak hanya virtual tour museum, museum juga membuat acara menarik lainnya, seperti Doorprize, Quiz, Webinar ,dan Online Exhibiton. Jadi pengunjung tidak perlu khawatir lagi harus keluar dari rumah.

Namun begitu, museum akan tetap buka, hanya saja tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat. Seperti pembatasan pengunjung yang masuk, tes suhu, memakai masker, dan mencuci tangan sebelum masuk. Tak hanya pengunjung yang menerapkannya, para pegawai museum pun melakukannya, begitu pula dengan ruangan dalam museum yang secara rutin disemproti dengan cairan disinfektan. Untuk pembelian tiket, sekarang sudah banyak museum yang telah menerapkan pembelian tiket secara online untuk menghindari antrian di loket.


Nasib Museum di Era Pandemi


Covid yang menyerang hampir seluruh negara, melumpuhkan banyak sektor keuangan. Salah satunya adalah Museum. Penurunan angka pengunjung dan pendapatan yang tidak stabil membuat museum menjadi terancam tutup permanen.

Tahun 2020 menjadi tahun yang berat tidak hanya untuk Indonesia, namun juga negara-negara lainnya. Virus covid 19 yang menyerang, memaksa kita semua untuk melakukan karantina mandiri di rumah dan pembatasan sosial. Tentu saja hal ini bukanlah hal yang mudah. Kita terpaksa harus beradapatasi dengan keadaan yang baru ini. Yang biasanya kita dapat pergi ke sekolah atau ke tempat kerja dengan bebas, kini semuanya terpaksa harus dibatasi. Kita harus belajar dari rumah dan juga bekerja dari rumah.

Tidak hanya soal belajar dan bekerja, masa-masa pandemi ini tentunya juga membatasi kita untuk bertemu dengan orang-orang secara bebas. Tidak ada lagi anak-anak yang bebas bermain bersama-sama, tidak ada lagi anak-anak muda yang nongkrong di kafe, tidak ada lagi ibu-ibu yang datang ke mall bersama keluarganya hanya untuk sekedar refreshing sekalian belanja bulanan. Tentu saja hal ini berimbas langsung pada dunia bisnis. Sektor perekonomian hampir seluruhnya lumpuh.

Tak terbatas pada sekolah, kantor, atau tempat berjualan saja, wabah ini juga berdampak pada museum. Banyak museum-museum yang memutuskan untuk tutup sementara demi menjaga kesehatan bersama. Namun tentu saja, penutupan ini pun memiliki dampak yang lumayan besar. Seperti yang diketahui bahwa museum bergantung pada pendapatan dari pengunjung sehari-hari sebagai biaya operasional. Jika sebelum penutupan dilakukan jumlah pengunjung menurun karena adanya kebijakan pemerintah untuk melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) saja sudah membuat pendapatan berkurang drastis, apalagi jika museum di tutup sementara, otomatis tidak akan ada pengunjung yang datang.

Tentu saja ini bisa menimbulkan dampak yang lebih besar, bisa saja museum terancam akan tutup permanen. Sudah banyak museum yang mengalami krisis ini. Meski begitu, tentu saja keputusan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial dan penutupan sementara masih harus dilakukan.

Dilansir pada Kompas.com Pada Mei 2020, UNESCO mengeluarkan sebuah survei berjudul "Museums Around the World In The Face of Covid-19". Melalui survei tersebut, UNESCO mencatat bahwa sebanyak 90 persen museum menutup pintunya selama pandemi. Sementara 10 persen lainnya kemungkinan sama sekali tidak akan buka kembali. itu berarti bukan hanya museum di Indonesia yang mengalami ancaman ini namun juga museum-museum di luar negeri. 















Sumber : https://travel.kompas.com/read/2020/07/09/201100827/pengaruh-pandemi-terhadap-museum-di-dunia-interaksi-beralih-ke-digital?page=all.





Kamis, 12 Desember 2019

Motivation letter


Impian, cita – cita, harapan. Setiap orang pasti memilikinya. Bahkan, ketika seorang anak baru tiba di dunia, orang tua mereka langsung memberikan nama – nama dengan arti indah di baliknya, berharap anak mereka dapat bertumbuh dengan baik dan seindah arti namanya.

Begitu pun dengan saya. Sabrina Carrisimma Minerva. Sebuah nama dengan arti yang sangat indah dan doa baik yang terselip. Nama itu diberikan oleh orang – orang yang telah banyak berjasa dalam kehidupan orang tua saya. Sabrina berarti putri atau tuan putri, Carrisimma yang berarti yang tersayang, dan Minerva yang berarti bijaksana. Dengan begitu, mereka berharap kelak saya akan dapat menjadi sosok putri atau anak yang dapat menjadi panutan, disayang semua orang, dan bijaksana dalam bertindak. Sebuah doa indah yang disematkan ketika saya bahkan belum bisa bicara.

Memasuki usia prasekolah, orang tua saya mulai menuntun saya. Mencari – cari harta berharga yang akan menentukan kemana arah hidup saya dewasa nanti, yaitu minat dan bakat. Oleh karena itu, mereka memfasilitasi saya banyak hal. Dari kecil, saya ini suka berkhayal. Maka, orang tua saya membelikan saya berbotol – botol cat air dan krayon serta bertumpuk kertas gambar dan kanvas untuk saya warnai dengan imajinasi. Dan cara itu bisa dikatakan efektif, berlembar – lembar kertas dan kanvas ukuran kecil habis saya gambari. Masih tidak puas dengan kertas dan kanvas, saya pindah ke media yang lebih besar. Hasilnya, tembok putih rumah saya penuh dengan warna - warni krayon. Saat itu, saya belum mengenal istilah impian, yang saya tahu hanya menggambar itu menyenangkan.

Masuk ke sekolah dasar, saya bertemu dengan istilah cita – cita. Saya dan teman – teman saya diperkenalkan dengan macam – macam profesi. Dokter, guru, polisi. Saya ingat, tiga profesi itu yang paling digandrungi oleh teman – teman saya saat itu. Tapi saya tidak. Lahir di lingkungan guru dan juga seniman, saya jadi tahu persis apa yang dikerjakan oleh guru. Dan menurut saya saat itu, itu adalah pekerjaan yang membosankan.  Kemudian, saya teringat sebuah serial kartun yang sering menemani sarapan saya sebelum sekolah. Sebuah adegan di mana tokoh utamanya pergi ke bulan dengan roket, menggelitik rasa ingin tahu saya. ‘memangnya di bulan ada alien?‘ lalu, ‘kenapa UFO itu berbentuk piring? Kenapa tidak mangkuk?’. Dua pertanyaan utama itu menjadi fokus utama dari pertanyaan – pertanyaan lainnya yang mulai tumbuh bak jamur di kepala saya. Dan akhirnya, ketika tiba waktunya untuk saya memberitahukan cita – cita saya, dengan lantang saya meneriakkan kata astronaut. Saya sangat bangga saat itu, karena hanya saya yang memilih astronaut sebagai cita – cita di antara teman – teman sekelas saya.
Namun, cita – cita astronaut ini rupanya tidak berlangsung lama, karena selayaknya seorang anak kecil yang gampang tertarik akan satu hal, saya terus berganti cita – cita seiring dengan banyaknya hal – hal baru yang saya temukan. Pernah satu kali, saya melihat pemain biola mengamen di lampu merah, dan suara biolanya berhasil membangkitan ketertarikan saya. Namun, saat itu saya belum terlalu tertarik. Hingga seorang teman ayah saya datang berkunjung ke rumah. Ia seorang pemain biola orkestra. Ia menunjukan biolanya dan beberapa videonya bersama grup orkestranya di sebuah ruang pertunjukan megah. Saya mulai melupakan menjadi astronaut dan beralih pada biola.

Namun, lagi – lagi sepertinya musik bukanlah passion saya. Saya dengan cepat kehilangan rasa antusias dan mulai bosan. Hingga di penghujung masa sekolah dasar saya, sekolah mengadakan bazar buku murah. Saat itu bertepatan dengan pembagian rapor semester. Ayah sayalah yang datang bersama saya untuk mengambil rapor. Pulang mengambil rapor, kami menyempatkan mengunjungi bazar buku itu, dan ayah saya membelikan sebuah buku yang lumayan tebal berisi cerpen – cerpen dari banyak penulis cilik. ‘Hadiah karena sudah dapat peringkat bagus’ katanya. Saya hanya menerimanya karena cover buku itu yang terlihat sangat menarik.

Sampai suatu hari seorang guru saya mengabarkan akan ada seorang penulis yang datang ke sekolah saya. Dia adalah salah satu penulis cerpen di buku yang ayah belikan. Saat itu, buku yang dibelikan ayah masih sangat rapi. Bahkan, plastik yang menutupinya masih sangat bagus. Saya sama sekali belum membacanya, karena saya lebih suka bermain dan menggambar daripada duduk diam sambil membaca. Namun, ketika guru saya mengabarkan hal itu, teman – teman saya riuh membicarakannya. Mereka bahkan terlihat sangat senang akan kedatangan si penulis cilik itu.

Saya akhirnya penasaran. Pulang sekolah, buku yang dibelikan ayah, saya buka dan saya baca hingga selesai. Awalnya, saya hanya membaca tulisan dari si penulis yang akan datang itu, namun, nampaknya saya ketagihan. Sampai tiba – tiba ternyata buku itu telah habis saya baca hanya dalam sehari. Setelah membaca buku itu, dunia khayalan saya jadi terbuka lebih lebar dan bahkan jadi lebih liar. Akhirnya saya menemukan cara baru lain yang menyenangkan untuk menuangkan imajinasi selain dengan menggambar. Setelah itu, esoknya saya merengek pada ayah meminta untuk dibelikan buku diary, saya memintanya bahkan dengan menangis. Ayah saya luluh dan malam itu diam – diam ia membelikan saya sebuah buku diary kecil berwarna pink. Saat itu Sabrina kecil senang sekali. Saya rasa hal ini menjadi awal bagi mimpi saya.

Pencarian cita – cita ini masih berlanjut. Masuk ke jenjang SMP, orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di sebuah pesantren. Agar saya mendapat pelajaran agama lebih baik dan tidak melulu bergantung pada orang tua, alasannya. Saya setuju – setuju saja, karena bagi saya ini sebuah tantangan baru. Perjalanan masa SMP saya benar – benar terasa seperti rollercoaster. Banyak suka dan duka yang saya lalui di masa itu, bahkan saya pernah merasakan berada dalam titik paling memalukan sepanjang 19 tahun hidup saya. Sampai akhirnya, saya mulai menyadari hidup terpisah dari orang tua rupanya mulai merubah pola berpikir saya. Dan tentu, pandangan saya terhadap mimpi juga mulai berubah. Saya mulai lebih realistis dengan melihat kapabilitas saya, bukan hanya karena saya menganggap itu keren atau semacamnya. Dan karena itu, satu – persatu mimpi yang tanpa dasar saya hilangkan. Namun, dengan begitu saya jadi bingung, karena sepertinya saya tidak punya kemampuan apa – apa. Pada masa SMP ini, hari – hari saya, saya habiskan dengan menulis dan mendesain buku diary. Berbuku – buku diary sudah saya habiskan untuk menulis semua kegiatan saya selama tiga tahun masa SMP saya, semuanya saya curahkan di sana.

Beranjak dari lika – liku masa SMP, saya menginjak masa SMA. Orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di sebuah sekolah negeri, dikarenakan satu dan lain hal. Berbekal basic bahasa dari pesantren, akhirnya saya mengikuti ujian masuk untuk jurusan bahasa. Di masa ini, saya bertemu dengan pelajaran sastra Indonesia, ilmu yang masih terasa asing bagi saya meskipun orang – orang selalu berkata ‘sastra itu sama saja dengan bahasa Indonesia’, tapi bagi saya itu berbeda. Saya mulai mempelajari tentang puisi dengan rimanya, sajak dengan permainan diksinya, karya – karya usang dengan ejaan lama, atau juga cerita – cerita kaya diksi. Saya akhirnya mulai menyadari sesuatu, menulis sama dengan menggambar, dia tidak berbatas, bebas, dan juga kaya. Sebuah tulisan juga mampu menyedot pembaca memasuki dunia buatan si penulis. Suatu media yang bagus untuk menuangkan imajinasi secara detail.

Mulai saat itu, saya sudah memutuskan untuk menjadi penulis. Terserah, entah itu sebagai pekerjaan utama atau hanya sampingan, saya ingin berkarya lewat tulisan. Saya ingin menjadi tuhan bagi tokoh – tokoh khayalan ciptaan saya. Dan sampai akhirnya saya sampai di sini. Berdiri sebagai salah satu mahasiswi penerbitan, sebagai bekal menjejaki dunia tulis – menulis nantinya.   


Mengintip Wayang Tertua di Museum Wayang

  Menurut sejarah wayang diperkirakan sudah ada sejak 1500 tahun yang lalu. Sebuah kebudayaan tua yang terus menerus di wariskan kepada gene...