Senin, 12 April 2021

Telusur Museum Prasasti

Berwisata di Antara Nisan



Sekali lihat ke dalam Museum Prasasti semua pasti dapat menebak, bahwa bangunan dan area pemakaman ini merupakan peninggalan bangsa Belanda. Arsitekturnya yang bergaya klasik, gotik, dengan percampuran Hindu - Jawa abad ke 17 hingga abad 20, memang sangat menonjol. Terutama bangunan utamanya yang bergaya Doria, yang sebelumnya digunakan untuk menyemayamkan jenazah sebelum dikuburkan.

Masuk ke bagian dalam, hal pertama yang paling mencolok adalah eksistensi patung-patung malaikat, dari yang masih bayi hingga dewasa tersebar hampir di seluruh penjuru area taman. Tak ketinggalan, nisan-nisan bekas jaman dulu yang terbaring di tanah berumput dan yang masih berdiri tegak meninggalkan nama si pemilik yang raganya tak lagi beristirahat di bawahnya. Serta pohon-pohon menghijau dengan angin sepoi-sepoi yang menyapa para pengunjung dengan sejuknya.


Dalam museum ini, pengunjung dapat melihat nisan-nisan dengan cerita menarik yang dimiliki oleh pemiliknya. Seperti nisan Nisan Pierre Erberveld seorang Indo keturunan Jerman dan Thailand yang meninggal akibat hukuman mati dari pemerintah Belanda. Tubuhnya diikat pada empat ekor kuda dan ditarik ke arah yang berlawanan, sehingga tubuhnya terpecah dan berserakan di jalan. Nisannya di bangun seperti monumen dengan ciri khas tengkorak yang menancap pada besi di atasnya sebagai pengingat.

Kemudian ada nisan Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa yang menentang kediktatoran. Merupakan alumni dan dosen di Universitas Indonesia, sampai kematiannya di gunung Semeru karena menghirup gas beracun. Ia meninggal di usia yang masih terbilang muda, yaitu 27 tahun.

Lalu beralih ke sisi taman yang lain pengunjung akan menemukan nisan Olivia Mariamne Raffles, istri pertama dari Thomas Stamford Raffles. Selain itu masih banyak lagi nisan dari tokoh-tokoh lain, seperti menara Johan Jacob Perrie, dan peti jenazah dari presiden pertama RI dan wakilnya, Ir. Soekarno dan Soeharto.


Penggalan Jejak

Jejak Waktu di Museum Prasasti

Museum yang berlokasi diJalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat ini merupakan salah satu jejak pendudukan Belanda di Indonesia. Museum yang diresmikan 28 September 1795 oleh Halventinus van Riemsdi, seorang putra Gubernur Jendral Jeremias Van Rimsdijk (1775-1777), sebagai area pemakaman pejabat dan bangsawan Belanda yang bermukim di Indonesia. Dahulu kala dikenal sebagai kerkhof laan

Namun pada tahun 1974 hingga 1975 pekuburan ini dihenti fungsikan dan di revitalisasi secara besar-besaran oleh pemerintah DKI Jakarta. Jenazah yang terkubur semuanya dikembalikan kepada pihak keluarga dan ahli waris untuk kemudian dikuburkan kembali di negara asalnya atau TPU dan makam keluarga. Kemudian pada tahun 1977, area pemakaman seluas 1,3 Ha ini diresmikan oleh Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta pada saat itu, sebagai situs warisan budaya Museum Taman Prasasti.


Senin, 29 Maret 2021

Eksis di Museum Fatahillah

 

Museum Fatahillah menceritakan perjalanan sejarah Batavia ketika masa kolonial Belanda, Berbeda dengan Museum Gajah atau Museum Nasional yang koleksinya menceritakan peninggalan jaman prasejarah. Maka dari itu tidaklah heran, seperti museum lain yang berada di Kota Tua Jakarta, kalau museum satu ini juga berarsitektur Eropa.

Tidak hanya dijadikan tempat kunjungan untuk wisata edukasi, Museum ini juga biasa di incar sebagai spot foto oleh banyak fotrografer atau si instagenic. Terkesan vintage dan  klasik, begitu kata kebanyakan orang yang sengaja mengunjungi museum ini untuk berfoto.

Dengan arsitektur bergaya kolonial klasik serta dilengkapi dengan penataan koleksi dan pencahayaan yang baik, museum ini jadi tempat rekomendasi yang bagus buat kamu yang suka eksis di media sosial dengan foto-foto kece.

Tempat pertama yang bisa kamu tuju sebelum masuk ke dalam Museum Fatahillah adalah lapangan Fatahillah, di sana kamu bisa menyewa sepeda dan topi untuk berfoto di sekeliling lapangan. Dengan background bangunan-bangunan bergaya Belanda. Hasilnya akan buat kamu seperti sedang naik sepeda di jaman colonial dulu!.

Setelah puas naik sepeda mengelilingi lapangan, kamu bisa berfoto di depan Museum Fatahillah. Dengan pengambilan angle yang baik dan outfit yang mendukung pasti akan buat foto kamu tambah kece!. Bergerak masuk ke dalam, kamu bisa ambil foto dengan latar Ruang Mural Harijadi. Ruangan tersembunyi di Museum Fatahillah yang muralnya tak kunjung rampung ini belum lama di buka.

Selain itu, masih banyak spot foto keren lainnya. Dinding Taman Dalam yang dihiasi dengan tumbuhan merambat juga bisa kamu gunakan untuk berfoto. Ruang Peta Ciela dan Ruang Sidang pun bisa membuat foto kamu tambah kece. Jangan takut untuk mengeksplor spot-spot lainnya di Museum Fatahillah, kenakan outfit yang sesuai dan atur pencahayaan kamera, lalu Ckrek! foto kamu pun akan bisa se-estetik para selebgram.   

   

Warna-Warninya Museum Layang-Layang

Jika bosan dengan suasana vintage museum-museum bersejarah yang hanya berisikan barang-barang peninggalan jaman dulu, Anda bisa datang ke Museum Layang-Layang!. Di museum ini pengunjung akan di suguhkan dengan berbagai warna-warni dari layang-layang yang di pamerkan disini. Tidak hanya warna yang beragam, layang-layang di sini pun memiliki beragam bentuk dan ukuran. Dari yang terkecil hingga yang terbesar, dari yang paling mudah di buat hingga yang paling rumit. Semuanya lengkap!.

Tidak seperti museum-museum di Jakarta yang kebanyakan memiliki arsitektur Eropa bekas peninggalan jaman kolonial, bangunan museum ini adalah joglo, dengan warna cerah di dindingnya. Di tambah lagi dengan warna-warninya layang-layang yang terpajang di Museum ini, seperti menambah meriah suasana.

Selain untuk belajar dan mengenal tentang layang-layang dari penjuru dunia, tentunya ini adalah tempat yang bagus bagi anda yang ingin eksis di media sosial bersama dengan keluarga.  Beberapa spot di museum layang-layang siap mendukung ke-estetikan foto Anda. Jangan lupa untuk memakai outfit yang sesuai jika berkunjung ke museum ini, agar foto Anda terlihat lebih kece.


Museum Taman Prasasti, Tempat Foto Kece yang Katanya Angker?


 

Menyajikan koleksi-koleksi berkonsep kematian dan pemakaman berisi patung, nisan, hingga peti mati, siapa yang tidak bergidik membayangkannya. Terkesan suram dan horor bukan?. Namun nyatanya tidak begitu, coba datang ke Museum Taman Prasasti Anda akan takjub dibuatnya.

Begitu memasuki area museum, pengunjung akan disambut dengan bangunan-bangunan berarsitektur jaman kolonial yang tentunya memberikan kesan vintage yang kuat. Lalu kemudian pengunjung akan di sambut dengan patung-patung dan nisan yang bukannya seram malah terlihat estetik dan dramatis dengan kesan klasik dan antik.


Tidak heran kenapa museum ini banyak dikunjungi pengunjung yang ingin eksis di media sosial dengan foto-foto keren. Tidak jarang orang-orang juga menjadikan museum ini sebagai kawasan mengasah skill fotografi, atau spot foto untuk buku tahunan kelulusan, bahkan lokasi prewedding.

 

Spot foto di Museum Nasional

 

Selain terkenal sebagai museum arkeologi terbesar se-Asia Tenggara, Museum Nasional juga terkenal dengan bangunan berarsitektur belandanya yang banyak diincar sebagai tempat berfoto. Salah satu spot foto yang paling terkenal di antara pengunjung adalah halaman depan museum yang memajang karya indah milik Nyoman Nuarta.

Patung besar berbentuk pusaran hitam ini dibuat pada tahun 2012 dengan judul “Ku Yakin Sampai Di Sana”. Karya indah ini bercerita tentang perjuangan gigih dengan rasa semangat untuk bekerja keras menuju tujuan akhir.

Selain foto dengan patung ini, para pengunjung biasanya juga mengambil foto di taman tengah-tengah selasar museum. Serta berbagai spot di ruang pameran yang memilik pencahayaan bagus dan penataan yang rapi.

Senin, 22 Maret 2021

Museum Digital Bekasi, Siapkah Hadapi Pengunjung?

Museum Gedung Juang Tambun baru saja dibuka. Museum yang menyajikan sejarah kota Bekasi dari masa ke masa dengan menggunakan konsep digital ini tentu saja menarik banyak perhatian warga. Namun siapkah Museum menghadapi pengunjung di tengah pandemi?. Bupati Bekasi, Eka Supria Atmaja menegaskan saat peresmian gedung ini berlangsung, meski Museum ini sudah dibuka, tentu saja protokol kesehatan akan terus diperketat. Pengunjung harus dalam keadaan sehat dan menaati 3M. Selain itu, Museum juga hanya akan menerima 50% pengunjung dari kapasitas pengunjung yang tersedia, demi menghindari Penukaran Covid-19.


Mengintip Wayang Tertua di Museum Wayang

  Menurut sejarah wayang diperkirakan sudah ada sejak 1500 tahun yang lalu. Sebuah kebudayaan tua yang terus menerus di wariskan kepada gene...